Wacana pemantauan yang akan dilakukan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terhadap konten Netflix lagi jadi bahan pembicaraan akhir-akhir ini. Pro dan kontra mewarnai wacana yang katanya hanya sekadar pernyataan pribadi dari ketua KPI tersebut. Banyak yang bilang hal itu nggak perlu dan warganet menyayangkan wacana tersebut kalau sampai sungguh-sungguh terjadi.

Pasalnya, mereka merasa bahwa konten yang disediakan melalui layanan streaming satu ini jauh lebih berbobot dan berfaedah dibandingkan tayangan produksi dalam negeri di hampir semua stasiun TV nasional. 

Netflix telah dinikmati oleh sebagian masyarakat di Indonesia. Saluran ini jadi opsi yang menggantikan program hiburan di televisi nasional. Selain karena kontennya yang banyak diakui lebih baik, saluran ini bebas iklan. Pelanggan hanya perlu membayar biaya bulanan untuk internet dan langganan saluran Netflix itu sendiri. Mereka juga punya kebebasan untuk mengakses konten yang diinginkan tanpa batasan jumlah maupun kuota.

Baca Juga: Ini Kelebihan dan Kekurangan Layanan Netflix yang Perlu Kamu Ketahui

Salah satu yang diminati pelanggan Netflix itu sendiri adalah serial film yang punya kualitas oke. Seperti tujuh rekomendasi serial ini – yang menurutku adalah produk jempolan dari serial saluran Netflix.

13 Reasons Why

Aku harus mengakui kalau serial yang satu ini tergolong ‘berat’ untuk beberapa penonton. Film 13 Reasons Why adalah sebuah serial yang menceritakan tentang kejadian bunuh diri oleh siswi SMA sekaligus meninggalkan teka-teki siapa saja yang ‘terlibat’ di dalam kasus bunuh diri tersebut. Pada musim pertama, ceritanya fokus pada kaset rekaman yang menjadi benang merahnya.

Orang-orang yang ‘terlibat’ tersebut ‘diteror’ untuk mendengarkan kaset rekaman tersebut di mana setiap episode akan menceritakan hubungan korban dengan terduga. Ketika mereka punya keinginan menolak untuk lanjut mendengarkan rekaman dari kaset ke kaset, rekaman tersebut akan di-blow up ke publik sekolah. Artinya, setiap dari mereka punya bargaining position lemah dan nggak punya pilihan selain harus mendengarkan rekaman tersebut sampai selesai lantas mengoper ke orang selanjutnya.

Cerita setiap episode bener-bener nggak bisa ditebak, selain karena plot twist-nya mengejutkan, misteri per episode juga dibungkus rapi, alur yang digunakan juga maju-mundur. Mau nebak juga sangsi sendiri jadi akhirnya ya nonton aja sampai selesai, hahaha. Sampai tahun 2019, setidaknya sudah ada 3 musim serial film ini. Seri terakhir kabarnya akan ada di Netflix pada tanggal 23 Agustus 2019. Kalau mau nonton serial ini, saranku sih coba ikuti dari awal dulu karena per musim punya cerita yang saling berkaitan.

Sex Education

Apa jadinya kalau kamu tiba-tiba jadi terkenal karena profesi mamamu sebagai seorang terapis seks? Pernah kebayang? Aku sih nggak. Hehe. Dengar nama profesi terapis seks aja baru pertama kali waktu nonton serial Sex Education. Cuma kalau tiba-tiba benar terkenal karena profesi ibu sendiri seperti itu….aku nggak bisa membayangkan sih.

Serial Sex Education sendiri mengangkat cerita dalam format SMA, di mana seorang siswa bernama Otis punya seorang ibu seorang terapis seks profesional. Buat dia, itu nggak membanggakan. Justru membuat malu karena itu bukan pekerjaan yang ‘umum’. Hal yang dia tutup-tutupi itu akhirnya ketahuan oleh temannya – yang justru memutar kondisi ini sebagai sebuah peluang cari uang karena banyak sekali kasus-kasus di SMA tersebut yang berkaitan dengan seks.

Otis sendiri sebenarnya punya bakat sebagai terapis seks selama bisnis gelap itu dilakukan. Jadi terapi yang dia lakukan pun relatif bisa membantu klien-klien yang secara harfiah adalah teman sekolahnya sendiri. Nggak menutup kemungkinan karena sedari kecil dia sudah memperhatikan kedua orang tuanya yang punya profesi sama sebelum akhirnya keduanya memutuskan berpisah dan Otis mengikuti ibunya.

Tontonan ini menurutku bagus banget dan bisa jadi media pendidikan seks yang real. Sayangnya mungkin sebagian orang tua akan menganggap hal ini tabu. Meskipun memang nggak memungkiri kalau ada adegan hubungan seks yang ditampilkan secara blak-blakan, tapi inti cerita dan pelajarannya bukan di situ. Makna film ini justru jauh lebih dalam, seperti bagaimana kamu harus mampu menjaga martabat dirimu sendiri dan belajar memikul tanggung jawab.

Stranger Things

Kalau serial drama nggak cukup menarik perhatianmu, coba deh sama rekomendasi serial science-fiction sekaligus horor ala Amerika satu ini. Stranger Things ini adalah salah satu rekomendasi serial terbaik yang sekaligus dikenal berhasil mendongkrak popularitas Netflix. Sampai tahun 2019, sudah ada 3 musim dari serial Stranger Things – it means serial ini cukup tinggi peminat penontonnya.

Serial ini punya benang merah cerita proyek ilmiah yang ternyata merupakan percobaan gabungan antara eksperimen paranormal dan supranatural dengan melibatkan manusia sebagai subjek uji cobanya. Diceritakan proyek ini dilakukan di sebuah pedesaan fiksi bernama Hawkins, Indiana, di tahun 1980 awal.

Namanya juga percobaan, selalu saja ada hal-hal tidak terduga yang tidak diantisipasi oleh peneliti – sekaligus sebagai inti ceritanya. Proyek ini akhirnya membuka gerbang ke dimensi lain yang dalam film ini disebut dengan dimensi The Upside Down. Biar seru, satu manusia bernama Will Byers diceritakan diculik oleh makhluk dari dimensi lain tersebut. Ternyata efek sekembalinya Will ke dimensi manusia nggak senormal saat ia diculik.

Master of None

Benci sama tontonan yang berat dan bikin mikir dalem? Lebih suka yang bikin ketawa? Yaudah, coba tonton nih yang satu ini. Master of None merupakan serial Netflix yang ringan tapi nggak receh, drama komedi yang dibumbui percintaan namun juga bercampur dengan isu rasisme dan sexist biar makin sedap. Ketahuan sebagai serial yang beda dari yang lain plus ceritanya sendiri yang memang berbobot, nggak heran kalau serial Master of None ini bertubi-tubi dapat penghargaan serial komedi terbaik.

Baca Juga: 10 Film Tentang Entrepreneur yang Dapat Menginspirasi Kamu Menjadi Sukses

Azis Ansari, pemeran karakter utama bernama Dev ini, selayaknya adalah seorang pria cerdas yang tahu bagaimana caranya mengangkat isu dalam format drama komedi ringan yang bisa dinikmati penonton. Dev sendiri merupakan karakter pria Asia yang hidup di Amerika dan sudah lekat dengan perlakuan diskriminasi yang menimpa dirinya sendiri.

Meski begitu, karakter ini nggak menunjukkan sisi nelangsa terhadap perlakuan tersebut – mungkin sebuah pilihan yang mau nggak mau diterima karena hidup di negara orang kali ya. Di setiap episode terdapat isu-isu tertentu yang diangkat terutama mengenai isu rasisme – yang mana karakter Dev ini sendiri sebenarnya juga rasis. Hmm, menarik untuk dianalisis.

Daredevil

Buat penonton umum, siapa yang sangka kalau Daredevil adalah karakter superhero dari Marvel? Mungkin nggak se-terkenal superhero yang tergabung di Avengers, tapi sebenarnya karakter superhero satu ini nggak kalah kerennya plus versi serialnya punya rating yang lebih baik dibandingkan Daredevil versi the movie.

Yang unik dari karakter ini adalah kelemahannya di mata, alias superhero satu ini buta. Jarang-jarang kan ada superhero yang salah satu panca inderanya harus nggak berfungsi total?

Daredevil yang dalam film tersebut punya nama asli karakter Matt Mudrock ini kehilangan kemampuan melihatnya karena tertabrak truk yang mengangkut cairan kimia – yang akhirnya merenggut kemampuan visualnya. Tapi hal tersebut nggak memberhentikan semangatnya untuk mengoptimalkan empat indera dasar lainnya. Alhasil, dia tetap bisa bertahan hidup dengan sisa indera yang berfungsi optimal tersebut.

Orange is the New Black

Sisi kehidupan di penjara nggak banyak diangkat jadi tema utama film. Kalau di Indonesia, adegan yang memperlihatkan suasana di penjara nggak jauh-jauh dari suasana mencekam, bersalah, dan tentunya identik dengan hal-hal buruk. Pada akhirnya, yang seperti ini nih sebaiknya nggak ditayangkan karena ketakutan untuk ditiru atau diterima dengan persepsi melenceng oleh penonton. Tapi, karena kita adalah penonton berwawasan luas, maka aku akan tetap memasukkan serial Orange is The New Black dalam rekomendasi serial terbaik Netflix. Huahaha

Serial satu ini menceritakan seorang perempuan paruh baya bernama Piper Chapman yang mau nggak mau harus mendekam di penjara karena ketahuan membawa uang milik temannya – yang ternyata adalah pengedar narkoba. Setelah vonis ditetapkan, tentu ia akan menghadapi suasana dan orang-orang yang berbeda.

Baca Juga: Ini Dia Film Terbaik 2019 Yang Paling Ditunggu Banyak Orang!

Perlu ditekankan kalau lingkungan baru yang dihadapinya berbeda dengan dunia di luar sana. Di dalam penjara, ada banyak sekali orang-orang yang terpaksa mendekam dengan kasusnya masing-masing – dan harus bertahan dengan temperamental yang tentunya tak ada yang sama di antara satu karakter dengan karakter lain.

Meski terkesan kelam, tapi serial ini nggak sekadar menyoroti kehidupan dari narapidana yang selalu dilekatkan dengan stigma ‘manusia paling bersalah’. Justru, ada banyak pelajaran mengenai kemanusiaan diangkat dalam film ini secara apik dan epic. Benang merah pembelajaran dari serial ini nggak jauh dari ungkapan bahwa masa lalu kelam seseorang nggak ekuivalen dengan masa depannya yang buruk, bahkan para narapidana di sini punya sisi terangnya masing-masing.

The Defenders

Tergila-gila sama superhero? Kamu harus coba nonton serial The Defenders di Netflix. Bisa dibilang ini adalah serial Avengers versi mini yang bisa kamu saksikan tanpa harus menunggu tahunan karena tayangnya ya di Netflix. Karena kubilang ini mirip The Avengers versi cakupan yang lebih mini, film ini nggak jauh-jauh dari karakter pahlawan yang punya kekuatannya masing-masing.

Karakter pahlawan yang terdiri dari Daredevil, Jessica Jones, Luke Cage, Elektra, dan Finn Jones ini bersatu dalam serial The Defenders untuk satu misi: memberantas The Hand. Jadi, The Hand sendiri adalah sebuah organisasi gelap sekaligus masif yang punya kemampuan mumpuni di bidang bela diri. Even berhadapan dengan superhero, bukan hal mudah untuk melenyapkan The Hand.

Masing-masing karakter superhero dari The Defenders sendiri punya serialnya sendiri-sendiri di Netflix. Kalau kamu berminat mendalami setiap cerita dan perannya, kamu bisa menonton semua serial dari karakter superhero The Defenders. Sebuah aktivitas yang berfaedah daripada harus nonton tayangan gosip. Sip. 

Serial di atas hanya rekomendasi pribadi. Menurutku dari setiap serial itu punya nilai-nilai tersendiri yang dikemas dalam tayangan yang bener-bener nggak bikin bosan. Terkadang aku sendiri merasa ada beberapa hal yang justru bisa mencerahkan, dari hal-hal sederhana yang nggak pernah terpikirkan kalau tersebut bisa punya dampak yang besar buat relasi kita dengan orang lain.

Buat yang suka dikit-dikit mikir, beberapa dari serial film di atas bakalan bisa bikin refleksi berulang. Di sisi lain yang cuma suka hiburan, aku bisa bilang tayangan ini nggak akan membosankan kok.

***

Punya rekomendasi serial Netflix lain yang nggak kalah mencerahkan? Bisa loh tinggalin komentar di bawah buat saling tukar rekomendasi.

No more articles