Fenomena anak kembar mungkin menjadi hal yang biasa. Anda mungkin pernah bertemu dengan mereka, menjalin relasi, atau mungkin Anda sendiri memiliki kembaran. Banyak yang mengatakan kalau anak kembar memiliki hubungan yang erat dan bisa telepati, sehingga seringkali terjadi ketika anak yang satu sakit, kembarannya merasakan sakitnya juga. Masa sih?

Banyak kabar burung yang berkeliaran di sekitar kita dan menyatakan statements tentang anak kembar yang begini dan begitu. Sekilas terdengar lucu dan unik, tapi harus disadari bahwa bisa jadi beberapa di antaranya hanya mitos sedangkan sisanya benar-benar nyata – dijelaskan secara ilmiah.

Yang mana yang mitos dan apa saja faktanya? Yuk simak ulasan singkatnya berikut ini.

Mitos Anak Kembar

1. “Katanya, kalau anak yang satu sakit, kembarannya bisa merasakan sakit juga.”

Mitos yang paling sering terdengar adalah tentang kemampuan merasakan sakit ketika saudara kembarnya sakit. Banyak yang bilang kalau saudara kembar ini punya hubungan perasaan yang kuat sampai-sampai bisa merasakan apa yang dirasakan saudaranya.

Sebenarnya, hal ini hanya mitos. “Kemampuan” mereka untuk bisa merasakan sakit satu sama lain dipercaya karena mereka tinggal dalam tempat yang sama dan terus bersama. Mereka memiliki pola hidup yang relatif sama, mengonsumsi makanan yang relatif sama pula. Sehingga ketika mereka bisa sakit bersamaan pun itu hal yang normal, bukan sesuatu yang tibat-tiba bisa terjadi. Fenomena ini pun sebenarnya juga terjadi pada keluarga dalam satu rumah, ketika salah satu anggotanya sakit maka anggota keluarga lain bisa saja tertular.

2. “Anak kembar nggak bisa dapat ASI eksklusif dari Ibunya.”

Alasan yang bisa menjelaskan kalau ini cuma mitos adalah: karena ibunya mungkin kesulitan kalau harus menyusui secara bersamaan.

Ini serius. Nggak ada penjelasan ilmiah kenapa anak kembar nggak bisa mendapatkan ASI eksklusif dari Ibunya. Mungkin statement ini berkembang karena ketakutan sang Ibu yang mungkin tidak bisa memberikan ASI dengan takaran yang sama di antara anak kembarnya. Akan tetapi, metode dan trik untuk memberikan ASI kepada anak kembar ini sudah banyak beredar di internet. Ibu pun nggak semestinya khawatir karena masih banyak cara untuk tetap menyusui anak kembarnya dengan ASI eksklusif sesuai waktu yang dianjurkan.

Baca Juga: Cara Mengatasi Bersin-Bersin di Pagi Hari

3. “Cuma anak kembar laki-laki yang bisa menurunkan gen kembarnya.”

Mitos selanjutnya yang masih banyak dipercaya orang adalah bahwa hanya anak kembar laki-laki yang bisa menurunkan gen kembar kepada keturunannya. Terus anak kembar perempuan udah stuck aja gitu, tinggal mereka yang kembar, keturunannya enggak?

Nope! Setiap generasi – garis bawahi, setiap generasi, tidak terpaku pada yang punya gen kembar saja – baik itu laki-laki ataupun perempuan, punya peluang yang sama untuk memiliki keturunan kembar. Kemungkinannya memang lebih besar ketika Ayah atau Ibunya memiliki gen kembar itu. Penjelasan lain yang memungkinkan pasangan tanpa gen kembar memiliki anak kembar adalah karena fenomena hiperovulasi.

Hiperovulasi adalah pelepasan sel telur (yang tidak hanya satu, normalnya wanita hanya melepas satu sel telur) selama masa ovulasi atau masa subur wanita. Terus kenapa? Ya kalau dibuahi, berarti ada lebih dari satu sel telur yang kemungkinan jadi. Akhirnya, lahirlah bayi kembar. Jeng jeeeeng.

4. “Salah satu dari anak kembar itu pasti ada yang baik banget, sedangkan saudaranya jahat banget.”

Oke, ini siapa yang sebar statement kayak gini?

Kepercayaan lama tentang sifat baik-jahat saudara kembar ini tidak bisa dibenarkan secara ilmiah. Namun, ada kemungkinan sifat seperti ini terjadi karena kerap kali lingkungan sosialnya membanding-bandingkan anak kembar. Akhirnya, terjadilah penilaian sepihak dari lingkungan sosial tentang siapa yang lebih baik dan siapa yang buruk. Kalau si anak kembar tidak bisa menghadapinya, kedengkian hati membuat mereka jadi bersaing.

Tidak pernah ada bukti secara ilmiah yang menjelaskan bahwa anak kembar satu memiliki sifat sangat baik sedangkan saudaranya jahat atau buruk. Mereka justru lahir dengan saling melengkapi karena punya kepribadian juga bakat yang berbeda.

Baca Juga: Permainan Tradisional Indonesia Ini Pernah Eksis di Jamannya, Kamu Pernah Main?

5. “Hati-hati, anak kembar yang nggak tinggal bareng Ibunya nanti tumbuhnya lebih pendek, loh.”

Makin lama, mitos tentang anak kembar semakin nggak bisa masuk di akal.

Nggak ada korelasi antara anak kembar yang hidup dengan Ibunya bakal tumbuh pendek. Pertumbuhan dan perkembangan si anak sejatinya tergantung pada asupan gizi yang didapatnya juga pendampingan mental dari orang tuanya. Memang tidak bisa dipungkiri kalau anak yang tinggal dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan ibunya cenderung mendapatkan perhatian yang lebih baik. Ini bisa jadi salah satu pemicu mengapa tumbuh kembang si anak yang tinggal dengan Ibunya lebih bisa optimal daripada saudara kembarnya yang mungkin tinggal terpisah.

Fakta Anak Kembar

1. Seidentiknya anak kembar, mereka punya sidik jari – bahkan DNA – yang berbeda

Kalau mereka punya sidik jari yang sama, enak dong ya kalau titip absen. Hehehe.

Yap, anak kembar identik pun punya sidik jari yang berbeda. Mereka mungkin punya kepribadian yang mirip, begitu juga dengan kebiasaan dan interest atau ketertarikan terhadap suatu hal. Yaiyalah, mereka terbentuk dari sel telur yang sama dan berbagai blueprint yang sama pula. Selama masa perkembangan janin, pembentukan sidik jari ini bisa dipengaruhi oleh beberapa hal seperti pertumbuhan tulang atau tekanan dalam rahim. Alhasil, mereka bisa punya karakteristik sidik jari yang berbeda. Mungkin pattern-nya sekilas sama, tetapi tidak benar-benar sama secara detil.

2. Selisih lahirnya anak kembar bisa dalam hitungan bulan

Fakta selanjutnya adalah anak kembar nggak selalu memiliki selisih waktu menit untuk lahir. Di kehidupan nyata, kelahiran anak kembar yang memiliki selisih waktu kelahiran dalam hitungan bulan pun pernah terjadi – tapi kejadian ini bukan karena pembuahan alami.

Kasus nyata ini terjadi pada saudara kembar bernama Reuben dan Floren Blake. Mereka punya selisih umur hingga 5 tahun dalam statusnya sebagai saudara kembar. Hal ini terjadi karena orang tua mereka, pasangan Simon dan Jody Blake, melakukan opsi in vitro fertilization untuk memiliki buah hati. Reuben hadir sebagai keberhasilan pembuahan dari dua embrio yang ditanam pada rahim Jody – embrio satunya gagal. Ketika berhasil, Simon dan Jody memutuskan untuk menyimpan embrio lain. Beberapa tahun kemudian, mereka menanamkan embrio yang mereka simpan dan berhasil “membentuk” Floren. Mereka kemudian dikatakan sebagai saudara kembar secara teknis meskipun dibuahi dalam batch yang berbeda.

3. Anak kembar beda bapak? Bisa

Kasus lain yang sebaiknya tidak kamu hakimi sebagai “kesalahan si Ibu” adalah fenomena lahirnya anak kembar beda bapak. Meskipun ini juga tergolong sebagai kasus yang jarang, tetapi ini bisa terjadi. Kenapa? Prosesnya terjadi karena ketika seorang wanita mengalami hiperovulasi dan dibuahi oleh dua orang berbeda – dalam waktu bersamaan – lantas sel telurnya berhasil dibuahi, secara teknis, anak yang lahir tersebut bisa dikatakan sebagai anak kembar. Kondisi pembuahan lebih dari satu sel telur oleh dua orang (artinya dua sumber sperma berbeda) ini disebut dengan heteropaternal superfecundation.

Baca Juga: Kanker Payudara: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

4. Anak kembar punya bahasa tersendiri yang mereka pahami berdua

Beberapa dari kita mungkin pernah mengetahui saudara kembar yang berkomunikasi dengan bahasa mereka sendiri, bahasa yang mungkin benar-benar kita nggak tahu dan menyebut bahasa tersebut seperti bahasa alien. Mereka tidak mengada-ada, loh. Bahasa tersendiri yang cuma bisa dipahami sama saudara kembarnya itu dikenal dengan nama Idioglossia atau yang sekarang punya istilah Cryptophasia.

Fenomena ini terjadi pada sekitar 40% saudara kembar sebagai bahasa privat mereka sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu dan pertumbuhan, bahasa ini akan hilang dengan sendirinya.

5. Sejak dalam kandungan, mereka sudah berinteraksi satu sama lain

Hal yang menjadi fakta tentang saudara kembar adalah interaksi mereka sudah dimulai sejak mereka masih dalam kandungan Ibunya. Bahkan ketika mereka masih dalam bentuk fetus berumur 14 minggu, saudara kembar ini sudah bisa saling berinteraksi dengan memegang kepala satu sama lain. Di umur 18 minggu kandungan, mereka semakin memiliki interaksi fisik yang lebih erat. Bahkan interaksi ini terjadi jauh lebih banyak daripada mereka menyentuh tubuh mereka sendiri. Aww~

Wah, ternyata banyak hal bahkan kita baru tahu sekarang sebagai fakta anak kembar. Selebihnya, yang beredar di masyarakat lebih banyak mitosnya – yang ironisnya dipercaya jadi fakta. Mungkin saudara kembar sendiri sudah sampai bosan dicerca pertanyaan seputar mitos hubungan mereka. Yaudah, karena sekarang udah tahu, jangan kekeuh tanya-tanya soal mitos anak kembar lagi ke mereka. Oke?

*Semua gambar pendukung diambil dari: Pixabay.com
No more articles