Mendengar istilah ‘mayat bangkit’ pasti langsung ingat dengan zombie. Zombie merupakan istilah yang sering digunakan di sebuah film saat menyebut mayat hidup. Di Indonesia sendiri, mayat hidup atau zombie juga masih ada. Ada sebuah fenomena mengenai hal tersebut di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, Tana Toraja. Konon katanya, pada upacara kematian yang diadakan oleh masyarakat setempat, biasanya ada seseorang yang bisa membangkitkan mayat serta mengendalikannya. Kisah mengenai tradisi ini sudah dikenal oleh masyarakat Toraja sejak dulu.

Alkisah, di sebuah desa bernama Sillanang ditemukan sebuah kuburan massal yang letaknya berada di dalam gua. Penduduk desa tersebut mengatakan bahwa mayat yang disimpan di tempat itu tidak pernah membusuk. Kemudian mayat-mayat tersebut juga diberi perlakuan khusus, seperti dilakukan proses pembalseman bak mumi yang ada di Mesir Kuno. Namun ada juga yang mengatakan bahwa mayat tersebut murni tidak membusuk dan tidak dibalsem. Tak hanya itu, seorang penduduk sekitar bernama Tampubolon pun menduga bahwa ada semacam zat khusus yang bisa membuat mayat-mayat tersebut menjadi tidak busuk. Ada juga kisah yang mengatakan bahwa pernah ada mayat berjalan yang dikendalikan oleh seorang pawang di samping kuburan massal tersebut. Mayat tersebut berjalan seperti orang yang masih hidup, namun cara berjalannya agak terseok-seok, persis zombie yang sering muncul di film.

Membangkitkan Mayat di Toraja

Ternyata mayat tesebut dikendalikan oleh seorang pawang dengan tujuan untuk menuntunnya kembali pada tujuan akhirnya, yakni rumahnya sendiri. Mengapa demikian? Dikatakan bahwa dahulu orang-orang Toraja sering melakukan jelajah di beberapa daerah pegunungan. Biasanya mereka tidak menggunakan alat transportasi apa pun saat menjelajah. Dalam penjelajahan yang berat tersebut, ada orang-orang yang tidak mampu untuk melanjutkan perjalanan lagi. Sehingga mereka terjatuh sakit, kemudian meninggal karena obat-obatan yang dibawa sangat minim. Mereka tidak ingin meninggalkan mayat rekan mereka tersebut, namun jika jenazahnya dibawa pulang juga akan merepotkan. Oleh karena itu, dilakukanlah sebuah ritual gaib tersebut. Mereka membangkitkan mayat tersebut, kemudian mengendalikannya dan menuntun mayat tersebut hingga sampai ke rumah masing-masing. Selama ritual dijalankan, ada pantangan yang harus diperhatikan. Sang pawang atau siapa pun tidak boleh menyentuh mayat tersebut hingga tiba di rumahnya. Apabila tersentuh sedikit saja, maka mantra tersebut akan hilang. Setelah tiba di rumahnya, maka mayat tersebut akan kembali tertidur.

Ritual tersebut sering disebut dengan Ma’nene. Selain untuk membangkitkan mayat, tradisi ini juga dilakukan untuk mengenang para leluhur maupun saudara yang telah meninggal. Istilah Ma’nene juga bisa diartikan sebagai mayat yang telah diawetkan. Masyarakat Toraja menganggap bahwa kematian merupakan sesuatu yang sangat disakralkan, sehingga harus dihormati.

Masih ada kisah lain mengenai ritual ini, bermula dari seorang pemburu binatang bernama Pom Rumasek pada ratusan tahun yag lalu. Ia berburu hingga masuk ke tengah hutan pegunungan Balla. Sang pemburu ternyata menemukan jasad yang tergeletak di tengah jalan dengan kondisi yang sangat mengenaskan karena yang tersisa tinggal tulang belulang saja. Karena merasa iba, ia langsung membawa jasad tersebut dengan baju yang digunakannya. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya untuk memburu.

Setelah kejadian tersebut, setiap kali Pong Rumasek mengincar binatang buruan, ia pasti selalu mudah untuk mendapatkannya. Banyak juga kejadian janggal yang menimpanya, seperti tanaman pertanian di rumahnya yang tiba-tiba tumbuh subur. Oleh karena itu, ia pun membuat kesimpulan bahwa jasad orang yang sudah meninggal harus tetap dimuliakan. Maka penduduk Baruppu selalu mengadakan ritual tersebut sekali sehabis panen besar di bulan Agustus.

Selain itu, ritual Ma’nene juga sering dimaknai sebagai perekat kekerabatan di antara masyarakat. Adat ini sebenarnya tidak tertulis, namun selalu dipatuhi oleh setiap warga. Misalnya saja, salah satu dari pasangan suami istri ada yang meninggal. Maka pasangan yang ditinggal mati tersebut tidak boleh menikah lagi sebelum mengadakan ritual Ma’nene. Sebelum melaksanakan ritual tersebut, mereka masih dianggap sebagai pasangan suami istri yang sah. Namun setelah melakukan ritual ini, pasangan yang masih hidup sudah dianggap bujang dan bisa menikah lagi. Menarik, bukan?

Ada juga kisah yang mengatakan bahwa budaya membangkitkan mayat ini berawal dari zaman pendudukan Jepang, di mana saat itu ada orang Toraja yang bekerja sebagai buruh bangunan untuk membantu membuat kapal kayu untuk tentara Jepang. Namun saat Jepang jatuh ke tangan sekutu, yakni Amerika, para pekerja-pekerja tersebut akhirnya bekerja dalam penyiksaan, paksaan, serta tanpa imbalan jasa. Hingga akhirnya para pekerja tersebut disuruh untuk menggali lubang panjang. Kemudian mereka disuruh berbaris di pinggir lubang dan ditembak satu per satu hingga terkubur secara massal di lubang tersebut. Namun bagi yang lolos, mereka menekuni sebuah ilmu gaib yang dapat membangkitkan mayat-mayat tersebut kembali ke pegunungan untuk dikuburkan bersama keluarganya masing-masing.

Versi cerita mengenai tradisi ini sebenarnya cukup banyak. Namun intinya, masyarakat Toraja memang masih memegang erat tradisi tersebut untuk menghormati arwah para leluhur. Hingga kini, ritual ini masih dilakukan setiap setahun sekali. Seluruh masyarakat Toraja juga percaya bahwa jika adat tersebut dilanggar, maka musibah akan melanda seluruh isi desa. Musibah yang datang bisa berupa gagal panen atau ada anggota keluarga yang sakit berkepanjangan dan menderita. Begitu kentalnya adat dan budaya di Tana Toraja ini hingga membuat banyak orang dari luar daerah hingga mancanegara datang berkunjung setiap tahunnya untuk menyaksikan ritual-ritual tersebut, yang salah satunya aadalah ritual membangkitkan mayat ini.

No more articles