Salah satu perbedaan antara masa sekolah dengan kuliah adalah tentang bagaimana kita mengembang tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kalau dulu, kita dan teman-teman sudah memiliki kurikulum pendidikan tersendiri yang memastikan kita bisa “masuk bersama, keluar bersama”, hal berbeda 180 derajat terjadi selama masa kuliah. Tidak ada yang mengharuskan kita untuk belajar, kampus juga tidak memberikan jadwal pasti. Kita punya andil untuk menentukan target kuliah kita sendiri, sehingga tidak heran kalau kamu tidak mampu mengikutinya sesuai jadwal maka kelulusanmu juga tertunda.

Apakah sebatas itu target kuliah? Tentu tidak. Selama masa kuliah, ada banyak dinamika yang menjadi pengalaman dan pembelajaran hidup – terutama untuk proses di luar kelas. Selesai kuliah, “problem” mahasiswa tidak selesai. Memang sih wisuda itu seolah terasa seperti akhir perjuangan, tapi faktanya ini baru gong resminya masuk dalam hutan kehidupan yang sebenarnya.

Post-Graduate Stress: Mengalaminya?

Euforia di balik rasa berhasil sudah diwisuda ternyata menimbulkan “masalah” lain. Kebimbangan untuk mulai beranjak dari dunia pendidikan ke dunia kerja ternyata menimbulkan masalah bagi sebagian orang. Tentu rasanya menyenangkan ketika sudah wisuda dan cepat dapat kerja, syukur kalau memang sesuai passion. Bagaimana dengan mereka yang justru masih mempertimbangkan hendak kerja apa? Atau bagaimana dengan mereka yang sudah enam bulan menganggur terhitung waktu wisuda?

Selain Makan, Ini Cara untuk Mengatasi Post-Graduation Stress

Ilustrasi Stress – Sumber: pixabay.com

Ada kondisi yang disebut dengan istilah Post-Graduate Stress Disorder. Kondisi ini cukup umum dialami oleh para lulusan yang masih menganggur. Menyaksikan teman-teman seperjuangan sudah mulai beranjak ke fase kehidupan selanjutnya, bahkan ada yang dua step lebih dulu, menimbulkan tekanan tersendiri bagi seseorang. Perasaan bersalah dan juga perilaku menyalahkan diri sendiri ini mulai muncul karena tidak bisa sama dengan teman-temannya. Ini bisa dibilang sebagai suatu tahap kehidupan yang kini menjadi umum karena selama ini merasa melakukan semuanya bersama-sama.

Gangguan atau sindrom ini tidak hanya akan berhenti pada pemikiran bahwa seseorang merasa sedih sebab tidak bisa menjajaki proses yang sama dengan teman-temannya. Jika terus dibiarkan dan tekanan ini memasuki tahap lanjut, gangguan ini bisa memengaruhi perilaku dan kebiasaan penderitanya. Hal ini termasuk dengan turunnya nafsu makan, sulit bangun pagi, bahkan depresi.

“Kenapa aku tidak bisa seperti temanku?”

Selain Makan, Ini Cara untuk Mengatasi Post-Graduation Stress

Kenapa Temanku Lebih Baik daripada Aku? – Sumber: theindianexpress.com

Ada suatu kondisi seseorang ingin sama seperti rekan-rekannya, apalagi jika selama ini sudah melakukan segala sesuatunya bersama. Tidak bisa dipungkiri, banyak dari kita yang masih sering membandingkan diri sendiri dengan teman-teman, bahkan teman terdekat. Naluri untuk bersaing dan mempertahakan “posisi” agar setara dengan teman-teman nampaknya menjadi kebiasaan yang – sayangnya – dipupuk sejak lama.

Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa kita perlu menjadi sama dengan teman-teman? Kita pasti punya satu hal yang membedakan kita dengan teman-teman, mungkin ada kelebihan yang terlanjur terkubur karena cenderung fokus untuk berproses secara sama dengan teman. Mengapa hal tersebut justru kita abaikan demi terlihat setara dengan teman? Ini perlu menjadi bahan refleksi dan hal lain yang perlu kita sadari adalah setiap dari kita punya potensi untuk berkembang dengan kelebihan yang sebaiknya dioptimalkan. Kita berbeda dengan teman-teman: opini, pemikiran, bakat, passion. Semuanya bisa berbeda, lantas mengapa harus disamakan?

Belajar Menepis Tekanan dari Dalam Diri.

Munculnya Post-Graduate Stress ini sebenarnya tidak akan terjadi ketika tidak ada andil dalam diri untuk “mempersilakannya” hinggap. Bagaimana mungkin? Kondisi ini sebetulnya muncul karena pikiran kita sendiri: kita merasa kurang mampu atau kalah dari teman, lantas naluri untuk menyaingi dan ingin diakui orang lain itu muncul. Ketika dibiarkan, sebenarnya kita menjerumuskan diri sendiri untuk semakin tidak siap menghadapi dinamika dunia kerja.

Lalu solusinya apa? Belajar mengatur diri sendiri, mengatur emosi yang membelenggu kita dalam merasakan tekanan itu. Disadari atau tidak, sesungguhnya tekanan ini merupakan hasil pemikiran sendiri – meski memang ada faktor eksternal yang menguatkan seperti pertanyaan iseng seputar “Sudah kerja di mana?”

Menguasai dan memanajemen diri sendiri menjadi kunci utama untuk menghindarkan kita dari tekanan ini. Hanya saja, cara-caranya akan lebih disederhanakan sebagai berikut.

1. Fokus pada kesehatan.

Selain Makan, Ini Cara untuk Mengatasi Post-Graduation Stress

Olah Raga untuk Fisik dan Mental yang Sehat – Sumber: pixabay.com

Belum dapat kerja? Jangan khawatir. Ambil sisi positifnya. Selama kamu belum kerja, kamu bisa mengisi waktu untuk fokus pada kesehatanmu. Yang terlalu kurus bisa lebih menggemukkan badan, atau yang terlalu gemuk bisa mulai olah raga dan atur makan agar memiliki tubuh ideal. Kesehatan menjadi salah satu faktor pendukung kerja yang penting. Maka tidak heran kalau proses seleksi kerja nantinya juga akan diadakan tes kesehatan.

2. Perluas pengalaman.

Baik dengan kerja freelance atau mengikuti kepanitiaan organisasi bisa jadi opsi untuk menambah pengalaman dan membunuh waktu yang selama ini kamu gunakan untuk mengutuk diri. Dalam dinamika seperti ini, kamu juga bisa sembari merefleksikan diri tentang apa yang sesungguhnya kamu inginkan untuk kehidupanmu nanti, pekerjaan seperti apa yang kamu mau, apakah kamu benar-benar akan kerja langsung atau memilih S2 dulu. Opsi ini juga bisa menjadi nilai tambahmu karena kamu tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat.

3. Membuat perencanaan masa depan.

Selain Makan, Ini Cara untuk Mengatasi Post-Graduation Stress

Rencanakan dan Raih Targetmu! – Sumber: pixabay.com

Ketika kamu sudah mengetahui apa yang hendak kamu lakukan atau apa yang menjadi impianmu, rencanakan dan raihlah! Mungkin salah satu faktor kegagalanmu selama ini adalah kurang perencanaan matang terhadap suatu target yang kamu inginkan. Belajarlah selama masa kamu masih mencari pekerjaan yang cocok. Ini akan menjadi nilai tambahmu apabila nanti ketika kamu melamar pekerjaan dan melakukan sesi interview.

4. Perluas jaringan pertemananmu dan pertahankan yang sudah ada.

Kamu tidak akan tahu dari mana rejeki pekerjaanmu datang. Tetap bina hubungan baik dengan teman-temanmu dan buat pertemanan baru. Semakin luas jaringanmu, semakin besar kesempatanmu bertemu dengan pekerjaan yang sesungguhnya menjadi passion-mu. Selain itu, menjalin pertemanan yang besar juga lebih mampu membuka pandanganmu terhadap suatu hal. Harapannya hal ini bisa membuatmu lebih obyektif melihat fenomena sekitar, termasuk kondisi ketika kamu sedang down hanya karena teman-temanmu sudah memiliki pekerjaan lebih dulu.

5. Stop berpikir kalau kamu tidak lebih baik dari teman-temanmu.

Pikiran kita bisa menjadi boomerang bagi diri sendiri. Banyak kasus terjadi saat seseorang menjadi stres karena pikirannya sendiri. Ini mungkin juga terjadi padamu, pada kita, yang berpikir bahwa kita tidak lebih baik dari teman-teman seperjuangan hanya karena kita belum mendapatkan pekerjaan. Ingatlah, hanya karena belum punya pekerjaan tak membuat nilai diri kita lebih rendah atau lebih buruk dibandingkan orang lain.

Kami tahu bahwa tips ini juga berpotensi menimbulkan cibiran bagi sebagian dari pembaca yang berpikiran negatif atau tertutup. Bahwasanya panduan ini sekadar memberikan motivasi yang belum tentu bisa menyelesaikan permasalahan seseorang yang stres karena belum dapat pekerjaan. Tetapi percayalah, sebenarnya kunci untuk menyelesaikan tekanan tersebut ada pada diri kita masing-masing. Tips dan panduan ini hanya membantu untuk mengarahkan pola pikir kita agar lebih positif dalam menghadapi suatu fenomena. Jangan lelah berjuang dan terus menjadi lebih baik lagi, wahai jobseeker!

No more articles