Sebagai salah satu pulau terbesar di Indonesia, maka Kalimantan sangat kaya akan beragam potensi alam yang luar biasa dan sangat jarang ditemukan di wilayah lainnya di dunia. Berbagai macam jenis flora dan fauna mendiami hutan-hutan Kalimantan yang pada beberapa titik masih belum terjamah oleh tangan manusia. Hal ini tentu saja membuat pulau yang memiliki julukan Pulau Borneo tersebut menjadi salah satu kawasan konservasi bagi beragam spesies langka yang sangat dijaga kelestariannya.

Kalimantan juga memiliki Taman Nasional Danau Sentarum yang menjadi habitat bagi beragam flora dan fauna dan sekaligus menjadi lahan basah terbesar di Asia. Taman Nasional yang terletak di wilayah Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kapuas Hulu ini menjadi daya tarik tersendiri karena memiliki sekitar 20 danau, seperti dikutip dalam penjelasan MacKinnon et al (2000) yang mengatakan bahwa: wilayah Danau Sentarum dan danau-danau di sekitarnya merupakan suatu ekosistem lahan basah yang disebut dengan Danau-danau Kapuas. Danau-danau Kapuas terletak di suatu lembah di daerah yang meliputi luas kira-kira 6.500 km2 yang terkurung oleh deretan pegunungan Kapuas Hulu di sebelah utara, Pegunungan Muller di sebelah timur, Dataran Tinggi Madi di sebelah selatan dan Pegunungan Kalingkang di sebelah barat.

Sejak tahun 1999, kawasan Danau Sentarum telah ditetapkan sebagai kawasan Taman Nasional dengan luas wilayah sekitar 132.000 ha. Sebelum penetapan ini dilakukan, sejak tahun 1994 Danau Sentarum ditetapkan sebagai lokasi situs Ramsar. Konvensi Ramsar sendiri merupakan sebuah konvensi yang dibuat dan berlaku secara internasional untuk melindungi kawasan-kawasan lahan basah, di mana Indonesia sudah meratifikasi perjanjian ini sejak tahun 1991.

  • Kondisi lahan basah Danau Sentarum

Pada dasarnya, keberadaan danau Sentarum dan danau-danau di sekitarnya sangat bergantung kepada tingkat curah hujan yang tinggi di bagian hulu sungai Kapuas. Karena hal tersebut, maka danau-danau ini dapat dipandang sebagai sungai yang mengalir sangat lambat dan dasarnya menjadi sangat lebar dan dalam. Sungai Kapuas sendiri merupakan sungai terpanjang di Indonesia yang mengalir lebih dari 1.143 km hingga mencapai laut Karimata di sebelah barat pulau Kalimantan.

Tingginya curah hujan yang terjadi, akan sangat memengaruhi kondisi kawasan Taman Nasional Danau Sentarum karena kawasan ini berada di tengah-tengah jajaran pegunungan yang akhirnya menjadikannya sebagai daerah tangkapan air. Dalam periode hujan lebat pada musim hujan, air di bagian hulu sungai Kapuas akan naik dan masuk ke danau melalui sungai Tawang yang menghubungkan antara danau dengan sungai Kapuas dan membentuk danau sementara di sana. Pada puncak hujan, dapat ditaksir air yang mengalir mencapai 1.000 m3/detik dan menaikkan muka air danau hingga ketinggian 10-12 meter dari batas ketinggiannya di musim kemarau. Hal ini menyebabkan kawasan ini menjadi sebuah wilayah “Kantong air” dan membuat wilayah hilir di Kalimantan Barat, termasuk kota Pontianak menjadi aman dari banjir besar.

Taman Nasional Danau Sentarum

Dalam siklus tahunannya, sekitar 9-10 bulan dalam setahun kondisi kawasan Danau Sentarum akan terendam air dan pada musim kemarau panjang (Juli-September) sebagian besar danau akan kering dan hanya meninggalkan alur sungai. Pada masa ini, hanya sebagian danau-danau permanen saja yang akan terisi dengan air.

Taman Nasional Danau Sentarum terdiri dari ekosistem lahan basah, gambut dan rawa. Hal ini menyebabkan warna air Danau Sentarum keruh kehitaman, yang merupakan ciri bahwa air Danau Sentarum mengandung air asam humus yang tinggi.

  • Habitat Flora & Fauna

Perikanan

Adanya perubahan terhadap tinggi permukaan dan kondisi perubahan air di Danau Sentarum menciptakan sebuah keseimbangan ekosistem unik tersendiri. Untuk wilayah Kalimantan, Danau Sentarum merupakan kawasan penghasil ikan dengan beragaam jenis ikan air tawar yang keberadaannya sesuai dengan musim dan kondisi air di sana. Ketika musim banjir tiba, maka jenis-jenis ikan yang bisa dihasilkan Danau Sentarum adalah ikan berdaging putih (dari golongan Cyprinidae), dan sebaliknya ketika musim banjir mulai surut, maka jenis ikan “hitam” (sejenis lele, betok dan gabus) saja yang tertinggal di sana. Pada umumnya para  nelayan di Danau Sentarum memanfaatkan jenis-jenis ikan konsumsi seperti Toman, Jelawat, Patin Lais dan Belida sebagai sumber mata pencarian mereka

Menurut penelitian, ditemukan lebih dari 290 jenis ikan air tawar yang berada dalam ekosistem Danau Sentarum, semua ini terbagi dalam 120 genus dan 40 famili. Sebagian besar orang berpendapat bahwa ikan Siluk Merah atau Arwana Merah (Scleropages formosus) dari Danau Sentarum, merupakan jenis arwana terbaik karena pengaruh air danau yang khas yang mampu memunculkan warna merah pada ikan tersebut.

Flora & Fauna

Kawasan Danau Sentarum merupakan rumah bagi banyak jenis tumbuhan, sejak dilakukannya penelitian botani oleh Beccari di Danau Sentarum pada tahun 1867 hingga Giesen (1987) telah dapat diidentifikasikan 504 jenis spesies tumbuhan yang dibagi dalam 99 famili, di antaranya terdapat tiga famili terbesar yang berasal dari Dipterocarpaceae, Euphorbiaceae, Rubiaceae. Hal ini membuktikan bahwa kawasan Taman Nasional Danau Sentarum adalah kawasan yang sangat kaya akan keberagaman spesies tumbuhan.

Selain spesies tumbuhan, kawasan Danau Sentarum juga memiliki “tamu” musiman berupa burung-burung langka yang akan datang pada musim kemarau, yakni burung-burung pemakan ikan yang bermigrasi ke wilayah ini untuk mencari makan. Burung-burung pencari ikan di antaranya berasal dari famili Alcedinidae seperti Raja Udang, serta berbagai spesies langka dari famili Bucerotidae (Rangkong) dan famili Ciconiidae (Bangau). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa, 20% dari seluruh jenis spesies burung yang ada di Indonesia (1.519 spesies) berada di Danau Sentarum, itu artinya 310 spesies burung tersebut bisa ditemukan di sana.

Danau Sentarum juga merupakan wilayah hidup dari berbagai primata langka yang hanya terdapat di wilayah Kalimantan saja, seperti: Bekantan (Nasalis Larvatus), Kepuh (Presbytis Melalophos Cruniger), Orang Utan (Pongo Pygmaeus), Ungko Tangan Hitam (Hylobates Agilis), dan Kelempiau Kalimantan (Hylobates Muelleri).

  • Penduduk sekitar Danau Sentarum

Penduduk lokal di sekitar Danau Sentarum pada umumnya berprofesi sebagai nelayan dan merupakan suku Melayu yang keberadaannya dapat dirunut hingga awal abad ke-18. Pada umumnya nelayan Danau Sentarum tinggal di rumah jangkung, yaitu rumah yang dibangun di atas tiang kayu tinggi dan sebagian lainnya tinggal di rumah lanting atau rumah terapung. Selain menjadi nelayan, penduduk di sekitar Danau Sentarum juga sering menjadi seorang pencari madu.

  • Akses menuju Taman Nasional Danau Sentarum

Sebagaimana lokasi wisata lainnya yang berada di wilayah Kalimantan, Taman Nasional Danau Sentarum juga memiliki akses yang cukup menantang dan sedikit sulit untuk dijangkau. Bila berangkat melalui kota Pontianak, maka kita dapat mencapainya dengan cara melalui Sintang menuju ke Semitau. Perjalanan darat menggunakan mobil pribadi/carteran akan memakan waktu yang lumayan panjang, sekitar 12 jam.

Sebagai alternatif perjalanan lainnya, taman nasional ini dapat dicapai dengan menggunakan longboat dari Sintang menuju Semitau dengan jarak tempuh sekitar 7 jam perjalanan menyusuri sungan Kapuas.

  • Wisata unik dan menantang adrenalin

Perjalanan yang menantang menuju Taman Nasional Danau Sentarum dengan menggunakan longboat tentu saja akan menjadi tantangan tersendiri bagi kamu yang senang melakukan hal-hal baru, mengingat di Indonesia jarang sekali ada lokasi wisata yang harus dicapai dengan perjalanan panjang selama berjam-jam menyusuri sungai. Hal ini akan sebanding dengan segala keindahan dan keunikan lahan basah Danau Sentarum yang akan kamu temui di sana.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here