Siapa coba yang nggak tahu Coldplay? Bahkan,yang kupingnya setiap hari disodomi alunan Dangdut alternatif, mungkin masih familier sama lagu-lagu dari band asal Inggris ini. Bagi saya pribadi, Coldplay itu salah satu band yang senantiasa mengisi playlist sejak mp3 masih ber-cover mas-mas berkumis tipis itu, sampai beneran beli di iTunes.

Kata guru sejarah, Coldplay dibentuk pada tahun 1996 oleh Chris Martin dan Jonny Buckland di University College London. Setelah dibentuk dengan nama Pectoralz (iya, pake ‘z’. maklum, masih pada zamannya, jadi banggalah dengan status alay), Guy Berryman bergabung sebagai bassist dan mereka ganti nama jadi Starfish si Bintang Laut. Oke, maap. Will Champion akhirnya bergabung belakangan, dan pada tahun 1998, mereka resmi memakai Coldplay sebagai nama band tersebut.

Buat kamu yang sudah lahir saat itu, mungkin sempat merasakan hype lagu “Yellow” pada tahun 2000 dulu. Saya waktu itu belum lahir, sih. Meskipun “Yellow” bukan yang pertama, tetapi Coldplay mulai konsisten mengeluarkan karyanya sejak itu, baik berupa album, single, maupun extended play (EP). Coldplay juga rajin masuk nominasi maupun memenangkan award. Lengkapnya bisa dicek di en.wikipedia.org/wiki/Coldplay

Sekarang, mari kita ngomongin lagu mereka. Buat yang suka dengerin lagu-lagu slow, Coldplay adalah pilihan yang tepat. Lagu-lagu mereka banyak menggunakan instrumen piano sebagai pengiring lagunya. Dan, liriknya pun… beeh, mantap jiwa. Di artikel ini saya akan coba menyusun lagu-lagu Coldplay yang paling asyik menurut pribadi, beserta sedikit kesotoyan apa dan bagaimana lagu-lagu itu bercerita. Inget, ini hanya opini pribadi, semua orang punya cara sendiri untuk mengartikan lagu yang mereka dengar.

Ini dia!

Everglow – Coldplay

“Everglow” adalah salah satu track di album terbaru Coldplay, “A Head Full of Dreams”, yang mengalun ke publik di penghujung tahun lalu. Lagu ini sendiri ditulis oleh Coldplay dan Gwyneth Paltrow. Berdasarkan artikel wawancara yang pernah saya baca, tujuan dari lagu ini adalah menuturkan perasaan yang berlapis ketika kamu sedang mengkaji ulang suatu hubungan (pertemanan, pacaran, kakak-adek, oshi-wota) yang (maaf) sudah berakhir. Kamu akan terjebak nostalgia, merasakan sensasi hangat, bahagia, sekaligus nelangsanya perpisahan ketika mendengar lagu ini. Yang penting: paham liriknya.

Untuk pemberian judul, dalam sebuah wawancara, Chris Martin menjelaskan, “I was in the ocean one day with this surger guy. He was like, ‘Yo, dude, I was doing this thing the other day, man. It gave me this total everglow!’ I was like, ‘What an amazing word!’”

Lagu “Everglow” ini akan membuat kita merombak ulang konsep waktu yang sebenarnya. Apa benar waktu itu hanya sebuah garis lurus, yang mana titik di belakang kita adalah masa lalu, dan apa yang membentang di sana adalah masa depan? Lalu, memori atau impian ada di mana? Dan, kita, kita hanya manusia yang terjebak dalam fase. Fase demi fase telah dan akan kita lalui dalam hidup, mulai dari berkenalan dengan seorang teman, mulai merasa nyaman, lalu akhirnya hubungan kita sampai pada tahap yang akan dilalui oleh semua orang: berpisah.

Amazing Day – Coldplay

Kembali lagu dalam album teranyar. Pada lagu ini, Coldplay berhasil membuat penulis kembali kagum dengan kepiawaian mereka menulis lirik yang story telling banget. Mendengar lagu ini, kita bisa langsung membayangkan adegan yang ditulis dari bait demi bait. Sejatinya, tujuan dari lagu adalah menyampaikan, pesan maupun kisah. Dan lagu ini sukses untuk keduanya.

Kalau didengarkan baik-baik, mood dalam lagu “Amazing Day” ini sama dengan “Yellow”. Hanya saja, lebih hangat dan kalem, tidak banyak teriak-teriak dan iringan instrumen yang kencang.

The Scientist – Coldplay

Ini mungkin cukup awam. Bukan cuma penggemar Coldplay, tapi sangat banyak orang di penjuru dunia yang mencantumkan lagu ini untuk meramaikan playlist kala sendu mereka.

Saya kurang tahu motif Coldplay menulis lagu ini, jadi mungkin ini penjabaran sedikit berdasarkan liriknya saja. Lagu “The Scientist” bercerita tentang orang yang berusaha mengulangi apa yang pernah ia coba tapi gagal. Bisa jadi itu hubungan, kesempatan yang tidak diambil, atau mie rebus yang kematengan. Pikiran saya ini bisa dilihat dari kutipan liriknya yang banyak menyebut “back to the start”. Dan ini juga kelihatan sekali dari MV-nya.

Kalau direnungkan, memang banyak sekali kegagalan yang pernah kita lakukan. Menjalani hubungan yang tidak sehat ketika hanya kita yang berjuang, akhirnya gagal. Pada sebuah bait: running in circles; coming up tails. Ini bisa diartikan sebagai pola kusut yang mana kita sering terjebak di dalamnya. Rasanya kita bergerak maju, padahal diam. Hii.. serem..

What If – Coldplay

What if? Bagaimana jika?

Kalau sedang kalut, kita sering diserang banyak pertanyaan “what if” yang terkadang, jawabannya sendiri tidak ada. Pernah, tidak? Misalnya… kalau ingin melakukan sesuatu, kita lebih dulu dicegah dengan kemungkinan buruk setelahnya. Gimana kalau gue gagal?

“What if” juga sering jadi mimpi buruk dalam sebuah hubungan. Seringkali, pertanyaan biasa saja bisa berubah menjadi prasangka yang tidak terbukti. Pacar ngabarin mau main futsal, malah muncul pertanyaan, “Gimana kalau dia bohong? Gimana kalau dia bilang futsal, tapi sebenarnya mau diam-diam nikah tanpa sepengatahuan guweh?” Bahkan, dalam pertemanan yang harusnya lebih kalem pun, “what if” masih sering muncul. Gimana kalau gue ditusuk dari belakang?

Balik lagi ke lagunya. Lagu ini punya cara untuk memaksa pendengarnya berandai-andai dengan sejuta pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu akan menari-nari dalam kepala, mondar-mandir, bawel dan cerewet. What if there was lo light? / Nothing wrong, nothing right.~

Fun (feat, Tove Lo) – Coldplay

Kali pertama mendengerkan lagu ini, saya langsung tahu ini lagu galau. Dari kutipan lirik pembukanya saja sudah kelihatan, I know it’s over, before she says. Dibarengi penasaran, saya langsung menyaksikan rekaman live Coldplay di BBC1 yang menyanyikan lagu ini. Dan ternyata, penampilan mereka memang semelankolis liriknya. Chris Martin tampak larut dalam emosinya sendiri.

“Fun” adalah lagu yang menceritakan tentang sebuah hubungan yang telah usai. I know it’s over, before she says / Know someone else has taken your place. Mungkin semacam “ketemu orang baru”, ya. But didn’t we have fun? Don’t say it was all a waste. Bagaimana pun, pihak yang pernah berhubungan dengan kita itu adalah bagian dari hidup kita. Mereka jadi “sejarah” bagi kita. Jadi, jangan pernah menganggap mantan itu limbah, anggaplah pembelajaran. Oh ah ooh ooh ooh. Bodo amat, Chris…

Mungkin itu saja kali, ya. Sekali lagi, gimana kita menikmati lagu itu tergantung diri kita sendiri. Mau mengartikan dangdut koplo sebagai lagu galau, silakan. Mau mendengarkan metal hardcore ketika lagi sedih, silakan. Tidak ada yang mutlak dalam seni. Yang ada hanya perbedaan antara selera bagus dan jelek. Dan terkadang, terlalu memikirkan proses penulisan lagu juga membuat kita kehilangan “rasa” di lagu itu sendiri. Dadah!

No more articles